Minggu, 23 Maret 2014

FAKTA TENTANG OTAK, MEMAKSIMALKAN POTENSI MELALUI RAKSASA YANG TERTIDUR (2)



Pada posting sebelumnya, telah kami sajikan mengenai fakta tentang otak, guna memeksimalkan kinerja otak, sehingga potensi besar yang kita miliki sebagai anugrah Allah swt dapat kita maksimalkan. Diantaranya mengenai Teori otak triune, otak kanan, dan otak kiri, gelombang otak, dan tingkat efektifitas otak dalam belajar. Pada posting kali ini akan kami paparkan tambahan mengenai langkah-langkah lebih lanjut yang dapat kita lakukan agar potensi kinerja otak dapat lebih kita maksimalkan.

Langkah-langkah memaksimalkan kinerja otak

1.Belajar menyimpan informasi dalam pola-pola dan dengan asosiasi yang kuat
Banyak ilmuan percaya bahwa kita menyimpan banyak hal yang trehubung seperti cabang-cabang pada pohon. Otak kita mengklasifikasi informasi dalam sebuah file penyimpanan, seperti sebuah perpustakaan, indeks buku, atau buku rujukan. Untuk itu simpanlah informasi tentang sesuatu dengan pola yang sama. Bila anda diminta untuk menyebutkan macam-macam buah, maka anda akan menyimpan jeruk di tempat yang sama dengan apel, namun bila diminta untuk menyebut sesuatu yang bulat, andaq akan menyimpan jeruk pada tempatyang sama dengan bola. Demikian juga anda akan langsung ingat bahwa april memiliki 30 hari bila anda membuat rima dimulai april, juni, September, November. Berbeda bila hanya menghitungbulan dari awal. Hal ini bisa terbantu dengan pembuatan mind map (baca PETA PIKIRAN (MIND MAP), MEMAKSIMALKAN DAN MENGEFEKTIFKAN KINERJA OTAK).

2.Gunakan pikiran bawah sadar.
Dari hasil riset diketahui bahwa otak kita, secara sadar hanya dapat mencurahkan satu focus kepada satu topic ke satu topic yang lain pada saat itu, namun dapatmelakukan sangat banyak hal pada level bawah sadar. Candace Pert seorang pakar otak bahkan menyatakan bahwa 98-99% pembelajaran dilakukan oleh otak dan tubuh pada level bawah sadar. Bisa dibaca lebih jelas pada bab gelombang otak pada posting FAKTA TENTANG OTAK, MEMAKSIMALKAN POTENSI MELALUI RAKSASA YANG TERTIDUR (1)

3.Minum air putih

Karena otak terdiri mayoritas dari air (72-78%), maka dehidrasi akan sangat mempengaruhi performa otak. Kekurangan cairan dapat mengakibatkan berkurangnya kemampuan berfikir dan menurunnya daya serap informasi.

4.Memberikan nutrisi yang sesuai
Seperti mesin-mesin kompleks, otak juga memerlukan energi. Pada dasarnya ia mendapatkannya dari makanan. Jika makanan anda berenergi rendah, otak tidak akan bekerja dengan baik. Otak membutuhkan banyak glukosa, maka buah dan sayuran segar menjadi sangat penting. Selain itu, untuk mengirim pesan, otak mula-mula harus menghasilkan listrik. Dari sumber listrik itu, makanan yang baik dikombinasikan dengan oksigen. Tentu saja oksigen diperoleh melalui pernafasan. Untuk itulah menari nafas dalam-dalam sangat dianjurkan sebelum dan selama belajar untuk mengkondisikan darah anda. Disamping itu,otak juga membutuhkan pasokan zat besi, natrium, dan kalium yang bisa diperoleh dari pisang. Kekurangan kalium akan mengurangi aliran arus listrik yang mengakibatkan kurangnya jumlah informasi yang dapatditerima otak. Berikut ini kami memberikan tips agar nutrisi yang dipelukan otak dapat terpenuhi.
Sarapan setiap pagi, lebih baik mengkonsumsi buah-buahan segar
Makan sianglah dengan baik, disarankan untuk mengkonsumsi sayuran segar.
Jagikan ikan, kacang, dan sayuran sebagai sumnber lemak nabati utama dalam diet anda. Minyak ikan berperan dalam menumbuhkan miliaran sel glial. Minyak kacang dan sayuran adalah sumber utama asam linoleat yang diperlukan otak untuk memperbaiki penyeketan myelin di sekitar “jalur pesan “ otak.
Berolah ragalah secara teratutuntuk mengoksidasi darah
Bersihkan diri dari racun, diantaranya menghindari rokok dan minuman beralkohol, apalagi narkotika.

5.Mmbuat kedaan sedemikian rupa sehingga mesuk dalam tingkat efektifitas otak yang terpenting. 

Baca bab efektifitas otak pada posting FAKTA TENTANG OTAK, MEMAKSIMALKAN POTENSI MELALUI RAKSASA YANG TERTIDUR (1)

6.Melatih fungsi dan kerja otak

Otak kita seperti dengan otot tubuh. Otot tubuh yang dilatih akan semakin kuat dan berkembang. Namun bila tidak, maka akan melemah dan mengecil. Demikian juga otak kita. Deemikianlah sesuai hasil riset David Snowdon yang melakukan riset intensif pada biarawati di school of suster of notre dame.

7.Memilih lingkungan positif dan mendukung

Lingkungan yang bersifat mendukung dan dapat menstimulus pikiran akan sangat baik bagi kekuatan daya piker. Sebaliknya lingkungan yang memberikan tekanan dan stress akan sangat menghambat kinerja otak.

Perlunya perombakan dramatis dalam pendidikan orang tua

Sebagian peneliti tentang otak berkesimpulan bahwa 50% kemampuan belajar manusia berkembang dalam empat tahun pertama. Hal ini bukan berarti 50% pengetahuan dan kepribadian, melainkan bahwa pada tahun-tahun awal itulah otak bayi membentuk 50% koneksi – koneksi sel otaku tama, jalur-jalur yang siap menyimpan semua pengetahuan dimasa depan.

Jika memang demikian, rumahlah (bukan sekolah) yang menjadi lembaga pendidikan terpenting. Dan orang tualah (bukan guru) yang berperan sebagai pendidik pertama dan utama. Numun di Negara maju sekalipun, sangat sedikit calon ibu (lebih sedikit lagi calon ayah) tidak mengetahui hal ini. Mereka tidak mengetahui potensi otak, makanan apa yang diperlukan untuk peryumbuhan otak, atau tentang rangsangan terbaik yang dibutuhkan oleh anak. 

Karena itulah, program pengembangan anak harusnya menjadi prioritas utama. Prioritas di banyak negara berkembang justru sebaliknya. Subsidi-subsidi lebih banyak diberikan pada tinggat perguruan tinggi, dan semua itu lebih mahal dari pada sekolah taman kanak-kanak. Selanjutnya Sebagai orangtua, demi untuk memiliki generasi unggul, para orang tua hengaknya mempelajari mengenai hal-hal tersebut.

GAYA BELAJAR, SEBAGAI MODALITAS BELAJAR SISWA



1. Pentingnya Memahami Gaya Belajar Siswa

Albert Einstein kecil dikenal suka melamun. Guru-gurunya di Jerman mengatakan bahwa ia tidak akan berhasil di bidang apapun, pernyataannya merusak suasana kelas, dan lebih baik ia tidak bersekolah. Winston Churchill sangat lemah dalam pekerjaan sekolah. Dalam berbicara ia gugup dan terbata-bata. Sementara itu Thomas A. Edison pernah dipukuli guru dengan ikat pinggang karena dianggap mempermainkan guru dengan mengajukan banyak pertanyaan. Karena seringnya dihukum, ia dikeluarkan ibunya setelah mengenyam pendidikan formal hanya selama 3 bulan. 
Einstein, Chuechill, dan Edison memiliki gaya belajar yang khas yang tidak sesuai dengan gaya belajar sekolah mereka. Untunglah mereka memiliki pelatih yang memahami gaya belajar tersebut hingga akhirnya kesuksesan luar biasa mampu mereka capai. Einstein berhasil menjadi ilmuan terbesar sepanjang sejarah, Churchill akhirnya menjadi salah satu pemimpin dan orator terbesar abad 20, dan Edison menjadi penemu paling produktif sepanjang zaman.
Sayangnya, jutaan anak lain dengan kekhasan gaya belajar berbeda tersebut jarang sekali yang menemukan seseorang yang mampu memahaminya, sehingga tak mampu memaksimalkan potensi yang dimilikinya. inilah yang menjadi sebab terbesar kegagalan dunia pendidikan. 
Setiap orang tentunya memiliki bakat dan modalitas belajar yang berbeda. Namun kebanyakan sekolah diselenggarakan dengan asumsi setiap orang itu identik. Bila kita perhatikan dalam kelas di dunia pendidikan kita, kita mlihat kecenderungan oleh guru yang hanya menggunakan satu cara saja dalam mengajar. Guru mengajar dengan menggunakan media papan tulis (visual), mengajar dengan menggunakan buku (visual). Sementara itu siswa belajardengan buku (visual), mencatat (visual), mengerjakan tugas secara tertulis (visual), dan mengerjakan tes juga secara tertulis (visual). Karena hanya menggunakan satu gaya belajar, akhirnya timbullah beragam masalah yang menyebabkan kurangnya motivasi dan aktivitas belajar siswa. 
Bagi guru yang ingin sukses pada masa mendatang, sangat penting untuk mengetahui apa yang berlangsung dalam kepala murid mereka. Perlu juga mengetahui perlakuan apa yang mereka butuhkan. Pengetahuan guru tentang gaya belajar membantu para guru untuk menciptakan lingkungan belajar yang multi-indrawi, yang melayani sebaik mungkin kebutuhan individual setiap siswa. Dengan memanfaatkan konsep keragaman dan menerima gaya belajar yang berbeda. Para guru menjadi lebih efektif dalam menentukan strategi-strategi pengajaran, dan murid akan belajar dengan lebih percaya diri dan lebih puas dengan kemajuan belajar mereka.

2. Macam-macam Gaya Belajar

Dari cara kita memasukkan informasi ke dalam otak melalui panca indra, kita mengenal paling tidak ada tiga macam gaya belajar, yaitu Visual (penglihatan), Auditori (Pendengaran), dan Kinestetik (Gerakan). Pembagian ini dapat diperluas lagi dengan tambahan gaya Tetile (Perabaan), Olfactori (penciuman), dan Gustatori (Pengecapan). Dari enam macam gaya belajar ini, tiga teratas merupakan gaya belajar yang sering dijumpai. Pada umumnya, jarang orang jarang menggunakan satu macam gaya belajar, biasanya akan ada kombinasi antar semuanya. Untuk itulah sabagai guru hendaknya kita mampu mengkombinasikan antar berbagai gaya belajar siswa. Dari hasil penelitian, jumlah siswa yang belajar secara visual sebanyak 27%, auditori 34%, dan 39% kinestetik. Hal ini kiranya dapat menjawab mengapa banyak siswa yang emngalami kesulitan belajar.

a. Gaya belajar visual (penglihatan)
Modalitas dan gaya belajar ini mengakses citra visual, yang diciptakan maupun diingat. Warna, hubungan, ruang, potret mental, dan gambar menonjol dalam modalitas ini. Seorang yang sangat visual bercirikan berikut:
• Teratur, memperhatikan segala sesuatu, menjaga penampilan
• Mengingat dengan gambar, lebih suka membaca dari pada dibacakan.
• Membutuhkan gambaran dan tujuan menyeluruh dan menangkap detail: mengingat apa yang dilihat.
• Suka membuat coret-coretan
• Dalam komunikasi sering menggunakan kata yang berhubungan dengan penglihatan
• Berbicara dengan tempo cukup cepat
Untuk menghadapi siswa dengan kecenderungan visual, guru hendaknya melakukan hal-hal berikut:
• Menggunakan kertas tulis dengan tulisan berwarna daripada papan tulis
• Mendorong siswa untuk menggambarkan informasi, dengan menggunakan diagram dan warna.
• Beri kode warna untuk bahan pelajaran, dan sebaiknya dorong siswa untuk mencatat dengan aneka warna

b. Gaya belajar auditori (pendengaran)
Modalitas ini mengakses segala bunyi dan kata. Musik, nada, irama, rima, dialog internal, dan suara menonjol disini. Seorang yang sangat auditorial bercirikan:
• Perhatiannya mudah terpecah
• Berbicara dengan pola berirama
• Belajar dengan cara mendengarkan
• Ketika membaca suka menggerakkan bibir/bersuara
• Berdialog secara internal dan eksternal
Untuk menghadapi siswa dengan kecenderungan visual, guru hendaknya melakukan hal-hal berikut:
• Gunakan variasi vokal (perubahan nada, kecepatan, dan volume) dalam presentasi kelas
• Gunakan pengulangan, mintalah siswa menyebutkan kembali konsep pelajaran
• Gunakan musik sebagai aba-aba untuk kegiatan rutin
• Setiap segmen siswa diminta memberitahukan pada teman sebelahnya.

c. Gaya belajar kinestetik (Gerakan)
Modalitas ini mengakses segala jenis gerak dan emosi.. gerakan, koordinasi, irama, tanggapan emosional, dan kenyamanan fisik menonjol disini. Seorang yang sangat auditorial bercirikan:
• Menyentuh orang yang berdiri berdekatan
• Banyak gerak
• Belajar dengan melakukan,
• Menunjuk tulisan saat membaca
• Mengingat sambil berjalan dan melihat
Untuk menghadapi siswa dengan kecenderungan visual, guru hendaknya melakukan hal-hal berikut:
• Gunakan alat bantu saat mengajar untuk menimbulkan rasa ingin tahu dan menekankan konsep kunci
• Ciptakan simulasi konsep agar siswa mengalaminya
• Peragakan konsep sambil memberikan kesempatan siswa untuk mempelajari langkah demi langkah
• Ijinkan siswa berjalan-jalan di kelas
• Ceritakan pengalaman pribadi mengenai wawasan belajar, dan doronglah siswa untuk mengalaminya.
Siswa dengan kecenderungan kinestetik paling dirugikan dalam sistem pendidikan saat ini. Pelajar kinestetik perlu bergerak, padahal dalam kelas tradisional, anak harus diam dan mendengarkan apa yang disampaikan guru. Anak ini sering dicap sebagai anak hiperaktif atau bandel.

3. Gaya Belajar, Diturunkan Atau Dikondisikan?

Mengapa kita semua begitu berbeda sekaligus mirip pada saat yang sama? Apa yang terjadi dengan gaya belajar kita setelah tumbuh dewasa? Apakah gaya belajar kita berubah atau tetap sama sepanjang hidup kita?
Pencarian penjelasan tentang manusia telah berlangsung selama berabad-abad yang lalu. Penelitian oleh Dunn dan Dunn merupakan salah satu alat yang mengandung unsure-unsur gaya hasil penelitian ilmiah yang jelas-jelas bersifat biologis dan tetap sepanjang masa. Penelitian yang dilangsungkan sejak 1979 mengungkapkan bahwa tiga perlima gaya belajar bersifat genetis, dan sisanya, diluar ketekunan, bisa dikembangkan memalui pengalaman. 
Disisi lain, seberapa jauhkah pengkondisian mampu mengubah sifat gaya belajar siswa di area biologis? Banyak siswa nampaknya memang mampu menyesuaikan diri dengan cukup baik, mengikuti pelajaran dengan cukup baik, dan mampu meraih hasil yang bagus. Namun tidak sedikit pula mereka yang tidak mampu untuk demikian. Tidak cocok dalam lingkungan belajar yang demikian, dan tidak mampu belajar sebagaimana teman lain, sebagaimana yang dibenarkan oleh guru.
Penemuan ini telah membawa kita pada sebuah kesadaran bahwa menjadi fleksibel di area-area biologis akan sangatmembantu, tetapi dikondisikan pada satu gaya belajar yang bukan gaya belajar siswa, akan memberi dampak yang dapat merusak dari berbagai segi. Pengkonsisan ini dapat menimbulkan masalah belajar, frustasi, dan penghargaan diri yang rendah.

4. Mengenal Dan Memahami Gaya Belajar Siswa
Kita telah memahami bahwa setiap orang, termasuk kita, memiliki modalitas belajar dan gaya belajar yang berbeda. Dalam praktik pembelajaran, kita tidak diperkenankan untuk menggunakan gaya belajar sebagaimana yang kita suka. Bila ini kita paksakan, maka siswa yang berbeda kecenderungan dengan kita, akan merasa dirugikan. Untuk itulah kita harus berupaya mengenali gaya belajar siswa kita, dan akhirnya akan kita gunakan pula dalam mengajar. Terdapat bermacam cara mengenal karakteristik agaya belajar siswa kita, yang utama adalah dengan komunikasi dan bertanya.
a. Mengenal gaya belajar siswa dengan bertanya
Diskusi sederhana tentang gaya belajar dan minat sering menjadi cara termudah untuk menghancurkan tembok antara guru dan murid. Anda juga dapat menemukan gaya belajar siswa dengan mendengarkan suara mereka. Mintalah instruksi pada siswa bergaya visual, maka dia akan cenderung menggambar sebuah peta. Pelajar bertipe auditorial biasanya tidak suka membaca buku atau buku petunjuk, dia lebih suka bertanya untu memperoleh informasi. Sedangkan siswa bergaya kinestetik, selalu ingin bergerak. Diatas juga telah dijelaskan lebih detail ciri-ciri gaya belajar.

b. Mengenal gaya belajar siswa dengan melihat
Ahli NLP ( Neuro Linguistik Programming) menyatakan bahwa mereka sering bisa mengetahui gaya belajar yang disukai siswa hanya dengan gerakan mata dan mendengarkan pembicaraan mereka. Seorang siswa yang duduk tegak dan melihat lurus ke depan, atau yang matanya memandang keatas saat menerima informasi, dan jika berbicara cepat, biasanya adalah tipe visual.
Seorang siswa yang melihat kekanan-kiri saat menerima informasi, atau melihat kebawah, ke sisi berlawanannya, mungkin seorang auditoriaal. Ia biasanya akan berbicara dengan suara yang berirama. Sedangkan siswa kinestetik akan banyak bergerak, memandang ke kanan dan kebawah saat menrima dan menyimpan, dan kalau bicara lambat.

c. Mengenal gaya belajar siswa dengan bahasa tubuh.
Untuk menyerap informasi, pelajar visual biasanya duduk tegak dan menguikuti guru dengan matanya. Seorang auditorial sering mengulang dengan lembut kata-kata yang diucapkan guru, atau sering menggunakan kepalanya saat guru menyajikan informasi lisan. Sedangkan siswa kinestetik sering menunduk saat ia mendengarkan dan juga kadang suka bermain-main benda, mengklik pulpen sambil mendengarkan orang berbicara.

FAKTA TENTANG OTAK, MEMAKSIMALKAN POTENSI MELALUI RAKSASA YANG TERTIDUR (1)

Allah swt telah menganugerahkan nikmat yang tak terhingga jumlahnya. Satu dari nikmat terindah adalah otak. Kita dilahirkan dengan dibekali otak yang sedemikiab canggihnya. Namun sayangnya kita belum mampu memaksimalkan anugrah terindah tersebut. Menurut survei, rata-rata manusia hanya menggunakan sekitar 4% dari kemampuan otaknya. Si genius Einstein hanya menggunakan 8% dari kemampuan otaknya.
Otak manusia adalah suatu organ yang beratnya sekitar 1,5 kg atau sekitar 2% dari berat tubuh yang dioperasikan dengan bahan bakar glukosa dan oksigen. Saat bayi dilahirkan, otaknya telah berukuran ¼ dari ukuran otak orang dewasa. Otak menyerap sekitar 20% suplai oksigen yang beredar di dalam tubuh manusia. Semua manusia sejak lahir telah memiliki 100.000.000.000 (seratus miliar) sel otak aktif dan didukung oleh 900.000.000.000 (sembilan ratus miliar) sel pendukung lainnya. Jadi totalnya ada 1 trilyun sel otak.
Diantara pembaca mungkin ada yang bertanya, apakah jumlah tersebut sama antara orang satu dengan orang lain? Kalau sama kenapa kecerdasan orang berbeda-beda? Sebenarnya dengan jumlah sel otak yang demikian cerdasnya, manusia memiliki potensi yang luar biasa untuk membuka tabir rahasia alam semesta. Namun sekali lagi, itu barulah sebatas potensi. Potensi ini harus dikembangkan. Meskipun memiliki jumlah otak yang sangat buanyak, ini bukanlah jaminan seseorang dapat menjadi makhluk yang cerdas. Kecerdasan seseorang tergantung pada seberapa banyak koneksi yang terjadi di antara setisp sel otak tersebut. Setiaap sel otak memiliki kemungkinan koneksi dari 1 hingga 20.000 koneksi. Jadi bisa dibayangkan betapa besar potensi yang dimiliki manusia.
Koneksi antar otak akan terjadi bila kita menggunakan dan melatih otak kita. Semakin sering kita menggunakan dan melatihnya, maka semakin banyak terjadi koneksi. Koneksi hanya akan terjadi bila kita dapat menciptakan arti pada apa yang kita pelajari.

Tiga Otak dalam Satu Kepala

Teori otak triune pertam akali dicetuskan oleh Dr. Paul Maclean. Didalam kepala manusia terdapat tiga macam otak yang berkembang sesuai dengan tahap evolusi manusia. Perkembangan terjadi secara bertahap mulai dari otak reptil, otak mamlia, dan neo cortex.
Otak reptil bermula dari batang otak yang terletak di dasar otak dan terhubung ke tulang belakang. Otak ini berfungsi sebagai pusat kembali, sistem saraf otonomi, dan mengatur fungsi utama tubuh seprti denyut jantung dan pernafasan. Selain itu, otak reptil juga berfungsi mengatur reaksi seseorang terhadap bahaya dan anacaman dengan menggunakan pendekatan “lari” atau “lawan”. Saat otak reptil aktif, orang tidak bisa berfikir. Yang berperan adalah insting. Otak reptil akan aktif bila seseorang merasa takut, stres, kurang tidur, marah, terancam, dan tubuh lelah. Berkebalikan dengan otak reptil adalah neo cortex. Neo cortex merupakan 80% dari total otak manusia yang berfungsi sebagai otak berfikir.
Pada neo cortex, terdapat empat lobus (cuping) otak yang memiliki fungsi berbeda. Lobus frontal, parietal, temporal, dan occipital. Lobus frontal yang treletak persis di belakang kening berfungsi untuk melakukan penilaian, kreatifitas, berfikir, merencanakan, dan memecahkan masalah. Lobus parietal terletak di bagian atas agak ke arah belakang dari otak kita, dan berfungsi untuki memproses sensasi dan fungsi bahasa. Lobus temporal terletak disamping kiri dasn kanan berfungsi untuk memproses pendengaran, memori, arti, dan bahasa. Sedangkan lobus occipital terletak di bagian dalam untuk penglihatan.
Dari otak reptil, otak berkembang menjadi otak mamalia. Di dalam otak mamila terdapat Limbic. Limbic ini berperan sebagai sakelar yang menentukan otak mana yang aktif, otak reptil atau neo cortex. Otak mamalia berperan dalam mengatur kebutuhan akan keluarga, strata sosial, dan rasa memiliki. Otak ini juga memberi arti pada suatu e3mosi atau kejadian. Disamping itu, otak mamalia juga berperan dalam mengendalikan sistem kekebalan tubuh, hormon, dan memori jangka panjang.




Otak Kiri dan Otak Kanan

Disamping triune otak, para ahli jug amembagi otak kedalam otak kanan dan otak kiri. Setiap belahan otak (kiri atau kanan) mempunyai fungsi yang berbeda. Belahan otak kiri berhubungan dengan logika, analisa, bahasa, rangkaian (sequence) dan matematika. Jadi belahan otak kiri berespons terhadap masukan-masukan di mana dibutuhkan kemampuan mengupas/meninjau (critiquing), menyatakan (declaring), menganalisa, menjelaskan, berdiskusi dan memutuskan (judging). Belahan otak kanan berkaitan dengan ritme, kreativitas, warna, imajinasi dan dimensi. Jadi belahan otak kanan berfungsi kalau manusia menggambar, menunjuk, memeragakan, bermain, berolahraga, bernyanyi, dan aktivitas motorik lainnya. Sebenarnya kedua belahan otak kiri dan kanan sama penting dan sama kuatnya. Mereka saling melengkapi satu dengan yang lain.

Ciri otak kanan dan otak kiri:

Otak kanan suka:
-warna
- imajinasi
- melamun
- ruang
- irama
- dimensi
- sintetis
- gambar
- mengatur tubuh bagian kiri

Otak kiri suka:
- kata
- garis
- urutan
- waktu
- angka
- logika
- analisis
- mengatur tubuh bagian kiri

Fungsi Otak Kanan dan Otak Kiri:

Otak Kanan:
-Paham tanpa berpikir, lebih menggunakan intuisi
sehingga sering tidak mengikuti peraturan
-Kreatif dan menyukai seni
-Menggunakan perasaan dan caring person
-Berpikir dengan gambar
-Suka angan-angan
-Imajinasi tinggi
-Peka akan nada/intonasi suara
-Tanpa banyak kata-kata, belajar melalui melihat, meraba, mengalami

Otak Kiri:
-Menggunakan analisa, lebih banyak berpikir
-Mengikuti peraturan
-Menggunakan logika daripada perasaan
-Kuat dalam matematika dan bahasa
-Cepat hafal kata-kata dalam lagu
-Berpikir dalam & serius
-Memahami sesuatu melalui kata-kata/penjelasan
-Penuh perhitungan bukan angan-angan

Gelombang Otak

Dengan EEG ( electro oncephalograph) kita mengenal empat macam gelombang otak, yaitu Beta, Alfa, Theta, dan Delta. Pengukuran gelombang otak ini di dasarkan pada getaran yang ditimbulkan oleh otak kita dalam satu detik. Kita tidak mungkin berada dalam dua gelombang otak yang berbeda dalam waktu bersamaan.
Beta (12–25 Hz)

Alpha (8-12 Hz)
Theta (4-8 Hz)

Delta (0,5-4 Hz)
Kita dalam kondisi beta pada saat sadar, melakukan aktifitas yang memerlukan konsentrasi tinggi, misalnya debat, olahraga, atau proyek rumit. Bila kita rileks tetapi waspada, maka kita berada pada gelombang alfa. Misalnya saat membaca, melihat, dan menulis. Kondisi inilah kondisi paling tepat untuk belajar ada bebarapa cara untuk masuk kondisi ini, yaitu meditasi, teknik pernafasan, relaksasi, visualisasi, dan mendengarkan musik. Saat kita berada pada kondidi theta, kita berada pada kondisi yang sangat rileks, masuk ke kondisi meditatif, dan ide-ide kreatif muncul. Apabila kita tidak dapat mengendalikan diri, maka kita akan masuk ke kondisi delta, alias tertidur.
Tingkat Efektifitas Otak dalam Belajar
Otak kita bellajar dengan menggunakan urutan prioritas. Urutan prioritas ini akan mempengaruhi tingkat perhatian dan konsentrasi dalam mempelajari sesuatu dan seberapa kuat informasi tersebut tertanam dalam ingatan kita. Urutan prioritas tersebut adalah:

1. Untuk keselamatan hidup
2. membangkitkan emosi
3. belajar hal yang baru

Perhatian dan konsentrasi maksimal akan diberikan otak terhadap informasi yang berhubungan dengan keselamatan hidup. Semakin dianggap penting untuk keselamatan hidup, maka semakin tinggi pula konsentrasi perhatian dan semakin kuat puyla melekat dalam ingatan.
Prioritas kedua adalah apabila informasi itu membangkitkan emosi, baik sedih maupun gembira. Dalam belajar-mengajar, tentunya kita membutuhkan emosi positif. Semakin kuat informasi tersebut membangkitkan emosi kita, maka semakin konsentrasi kita memperhatikan informasi tersebut. Prioritas terakhir adalah informasi yang berhubungan dengan proses belajar biasa. Informasi ini mendapat konsentrasi perhatian yang paling sedikit.
Untuk memaksimalkan konsentrasi dan hasil belajar siswa, tentunya kita sebagai guru hendaknya harus menciptakan suasana yang mengantarkan siswa pada tingkat efektifitas yang paling prioritas, yakni membuat pelajaran kita sangat penting bagi kehidupan mereka. Hal ini bisa dicapai dengan pendekatan-pendekatan dalam pendidikan, misalnya pendekatan integrasi-interkoneksi (tunggu postingnya aja). Bila hal ini sulit dilakukan, maka kita bisa mencipyakan susana dengan prioritas kedua, yakni melibatkan emosi dalam setiap pembelajaran. Hal ini bisa kita capai dengan menggunakan aneka metode mengajar yang relevan ( tunggu juga). Sebagai bocorannya mungkin kita bisa mengadakan permainan, hadiah, dll.